SAFE BPK: Peran BPK Sebagai Auditor dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

bpk2

Gedung BPK (Sumber: pengadaan.web.id)

Mungkin kita bertanya apa sih fungsi dari BPK? Selama ini, nama lembaga dengan akhiran K lainnya jauh lebih populer karena berhasil menangkap pejabat yang melakukan tindak pidana korupsi. Lantas apa peran dari BPK? Apakah serupa tapi tak sama? Maka dari itu, mari kita ketahui bersama siapa ini BPK sesungguhnya.

BPK atau Badan Pemeriksa Keuangan adalah lembaga negara yang bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Dalam UUD 1945, BPK diatur dalam UUD 1945 pasal 23E yang mengatur kewenangan, serta tugas dari BPK. Melalui visinya, BPK ingin menjadi pendorong pengelolaan keuangan negara untuk mencapai tujuan negara melalui pemeriksaan yang berkualitas dan bermartabat.

Selain itu, misi BPK adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara secara bebas dan bersih, serta melaksanakan tata kelola organisasi yang berintegritas, independen, dan profesional.

Dalam melaksanakan kewenangannya, BPK dilandasi oleh 3 nilai dasar, yakni independensi, integritas, dan profesionalisme. BPK berwenang untuk memeriksa keuangan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara Lainnya, Bank Indonesia, BUMN, Badan Layanan Umum, BUMD, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara. BPK juga berhak melaporkan pada penegak hukum jika didapati terdapat indikasi tindak pidana.

Melalui sistem kerja yang terstruktur, BPK melakukan tugasnya dalam 4 tahapan sebagai berikut:

  1. Melakukan pemeriksaan keuangan negara
  2. Hasil pemeriksaan diserahkan kepada DPR, DPRD, dan DPD
  3. Melaporkan ke aparat penegak hukum jika ditemukan unsur pidana
  4. Memantau tindak lanjut pemeriksaan BPK

Setelah itu, BPK pun menetapkan opini sebagai tolak ukur penilaian yang didasarkan pada 4 kriteria sebagai berikut:

  1. Kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan
  2. Kecukupan pengungkapan
  3. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
  4. Efektivitas sistem pengendalian intern

Selanjutkan ditetapkan status opini dalam 4 tingkat, yakni wajar tanpa pengecualian, wajar dengan pengecualian, tidak wajar, dan menolak memberikan pendapat. Hasil pemeriksaan ini kemudian dibawa ke lembaga perwakilan dan pemerintah untuk ditindaklanjuti. Jika terjadi pelanggaran, maka BPK berhak membawa laporan tersebut pada penegak hukum dan dijerat dengan hukuman yang tertulis di Pasal 26 Ayat 2 UU 15 Tahun 2014.

Melihat peran BPK sebagai auditor dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui fungsinya sebagai pengontrol arus kas negara, maka BPK menerapkan SAFE sebagai cara untuk mengamankan keuangan negara dengan pihak yang ingin “bermain” dengan keuangan negara. SAFE dapat dijabarkan sebagai berikut.

 

S – Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL)

bpk3

Alur Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (Sumber: slideshare.net)

Laporan BPK terhadap kinerja lembaga negara dalam pengelolaan keuangan negara dapat dipantau melalui Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut. Dengan adanya inovasi dalam sistem informasi BPK ini diharapkan BPK dapat memperkuat fungsi auditor dan kontrol dalam upaya menjaga keuangan negara. Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut ini juga mempunyai manfaat yang sangat besar, yakni:

  1. Proses monitoring secara real time sehingga meningkatkan kinerja pemantauan Tindak Lanjut
  2. Meningkatkan partisipasi entitas secara aktif dalam proses pemantauan TL
  3. Early warning diberikan secara otomatis dan berkala oleh aplikasi sehingga mengurangi risiko pidana karena kelalaian menggunakan TL
  4. Kelengkapan dokumentasi dan validitas data terjaga, serta kemudahan pencarian dokumen TL
  5. Imbal balik dengan program E-Audit

Melihat keunggulan Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL) yang dimiliki BPK, maka kita dapat melihat adanya sebuah wujud inovasi dalam upaya untuk meminimalisir tindakan korupsi dari para pejabat negara yang duduk di berbagai lembaga negara. BPK berupaya untuk memberikan langkah preventif dalam upaya mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dan pencucian uang.

 

A – Akuntabel

bpk4

Akuntabilitas BPK (Sumber: hukumonline.com)

Kinerja BPK juga akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai auditor dari lembaga negara, BPK dijamin mutunya karena senantiasa dilakukan peer review oleh Badan Pemeriksa Keuangan negara lain, sehingga kinerja BPK dilakukan secara optimal dan berstandar internasional. Berdasarkan Pasal 33 UU 15 Tahun 2006, BPK membiarkan diri dikoreksi oleh BPK negara lain setelah mendapat pertimbangan DPR guna menjaga akuntabilitas dalam proses dan kinerja pemeriksaan keuangan negara.

 

F – Freedom

bpk5

Kedudukan BPK di antara Lembaga Negara Lainnya (Sumber: bpk.go.id)

Setiap anggota BPK merdeka dari tekanan berbagai pihak karena memiliki kewenangan untuk memeriksa arus kas keuangan negara secara independen, sehingga mampu melihat adanya kejanggalan dalam proses pengelolaan keuangan negara. Sebagai auditor, BPK berada setingkat dengan Presiden, Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, DPR RI, DPD RI, dan MPR RI, sehingga merdeka dari intervensi lembaga kenegaraan lainnya yang diperiksa. BPK berdiri secara merdeka untuk memeriksa keuangan negara di lembaga tinggi negara lainnya, sehingga proses transparansi penggunaan anggaran dapat berjalan dengan baik.

 

E – Empowerment

bpk7

Laporan Masyarakat (Sumber: radarbangka.co.id)

Berbicara tentang fungsi BPK, tentu tidak terlepas dengan peran serta masyarakat dalam memperkuat fungsi pemantauan BPK itu sendiri. Masyarakat dapat melapor pada BPK jika menemukan adanya kejanggalan dalam proses pengelolaan lembaga negara tertentu melalui kanal website yang disiapkan di bagian Pengaduan Masyarakat (http://www.bpk.go.id/page/pengaduan-masyarakat). Diharapkan partisipasi aktif masyarakat juga dapat membantu dan memperkuat fungsi BPK agar senantiasa menjunjung tinggi nilai independensi, integritas, dan profesionalisme dengan adanya masyarakat sebagai auditor dalam fungsi dan kewenangan BPK di lapangan.

Tentu ketika melaporkan temuan, masyarakat harus memperhatikan kronologis kejadian, melihat pasal yang berlaku, menyertakan bukti awal, dan jika berkenan dapat melampirkan identitas diri pelapor jika dibutuhkan keterangan tambahan.

Dengan implementasi SAFE di lapangan, BPK diharapkan mampu menjadi auditor yang melindungi dan menjaga keuangan negara agar berada pada pos yang tepat guna dan tepat fungsi. Selain itu, BPK juga mampu mengawal harta negara menuju pemanfaatan yang tepat sasaran, yakni kesejahteraan masyarakat. Let’s SAFE BPK!

Sumber Literatur: http://www.bpk.go.id

 

Advertisements

Utopia Bernama Cinta Rupiah

uang

Sumber: Reuters

Ketika seseorang mencintai, maka sesungguhnya ia merelakan dirinya menderita. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia menyerahkan separuh jiwanya bagi apa yang dicintainya. Cinta mungkin bukanlah hal yang asing di mata kita. Cinta ditemukan hampir di semua sudut dan ruang yang ada di dunia. Sayangnya terkadang kita tidak memahami apa cinta itu sesungguhnya. Ada yang mengartikan cinta adalah hubungan antara lawan jenis atau kasih sayang yang diberikan orang tua. Lebih dari itu, cinta mempunyai makna universal yang patut kita pahami secara utuh.

Berbicara tentang Cinta Rupiah, terlintas di benak saya kenangan pahit tentang tragedi tahun 1998. Demonstrasi besar-besaran dan krisis moneter yang terjadi di Indonesia membuat nilai rupiah terjun bebas ke angka Rp 16.650 per dolar AS. Alhasil pemerintah mendengungkan gerakan Cinta Rupiah guna membangkitkan kembali kekuatan rupiah di kancah perdagangan valas dunia. Kampanye tersebut boleh dikatakan tidak berhasil karena masyarakat Indonesia merasa lebih aman untuk menyimpan dolar AS karena nilainya yang relatif stabil dan tidak fluktuatif layaknya rupiah.

Kini kita hidup di tahun 2017, di mana kondisi rupiah juga dapat dikatakan melemah. Utang negara dalam dolar AS, kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, dan banyaknya uang negara yang ditanam di negara lain membuat pelemahan rupiah menjadi sebuah tren yang kurang menggembirakan bagi Indonesia. Pemerintah pun tak tinggal diam dengan menerbitkan aturan penggunaan rupiah untuk semua transaksi yang terjadi pada 1 Juni 2015 melalui Surat Edaran BI (SEBI) Nomor 17/11/DKSP tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tentu apa yang dilakukan pemerintah semata demi membangkitkan kembali kekuatan rupiah yang terpuruk oleh kondisi ekonomi global yang mempengaruhi siklus perdagangan Indonesia yang masih mengandalkan dolar AS. Memang Bank Indonesia berencana untuk mengadakan kerja sama dengan bank di Malaysia dan Thailand untuk penggunaan mata uang kawasan, baik itu Indonesia Rupiah, Malaysia Ringgit, dan Thailand Bath untuk transaksi jual beli yang terjadi. Namun hal itu saja tidak cukup, jika cinta rupiah itu hanya sekadar kampanye atau gerakan sporadis semata yang didengungkan Bank Indonesia tanpa diimplementasikan sampai ke akar rumput.

Cinta rupiah sama halnya dengan mencintai seseorang. Cinta itu buta, kendati menyakitkan atau melelahkan, tapi toh kita tetap mempertahankannya karena ada rasa cinta itu di dalam hati. Cinta bukanlah kawin paksa yang dipandu oleh seseorang antara satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, cinta itu harus lahir dari objek insan itu sendiri, dalam hal ini masyarakat Indonesia.

Melalui perjalanan sejarah, Indonesia sudah merdeka selama 72 tahun hingga saat ini dan kita pun diajarkan bahwa bentuk kedaulatan Indonesia adalah digunakannya identitas bangsa sebagai identitas nasional yang patut kita syukuri. Kita mempunyai bendera merah putih, Bahasa Indonesia, dan tentunya mata uang Rupiah untuk digunakan di Indonesia. Dulu saat zaman penjajahan, mata uang yang digunakan adalah mata uang yang diciptakan penjajah dan tentunya kita tunduk pada apa yang diperintahkan oleh penjajah.

Wujud cinta rupiah sendiri adalah memaknai siapa itu rupiah dalam konteks kebangsaan kita hari ini. Rupiah adalah simbol kemerdekaan yang hakiki dari Republik Indonesia. Rupiah adalah sebuah wujud cinta dari para pejuang yang rela berkorban di medan perang demi memperjuangkan kemerdekaan kita. Maka dari itu, cinta rupiah sebenarnya bukan berbicara tentang untung rugi, tetapi seberapa nasionaliskah kita dengan negara kita tercinta, Indonesia.

Ketika tangan kita sibuk mencoret-coret uang rupiah dan meremasnya hingga kecil, seyogianya kita sedang merendahkan harga diri negara kita sendiri. Rupiah adalah cerminan dari mata uang Indonesia. Ironisnya beberapa mata uang negara lain justru kita perlakukan sangat baik dari penyimpanan dalam suhu ruang yang stabil, diberi plastik, bahkan ditaruh secara aman di safety box. Kita justru lebih mencintai mata uang negara lain yang menjadi penyebab anjloknya nilai rupiah tanpa kita sadari.

Mencintai rupiah sama halnya dengan mencintai seseorang. Ada konsekuensi, juga derita yang harus ditanggung dari rasa cinta itu sendiri. Tentu melepaskan valuta asing akan memberikan ketidakpastian dan nilai uang yang serba tidak pasti, tapi bukankah cinta itu juga berisiko. Kita berisiko kehilangan, juga merasakan pedihnya cinta itu sendiri. Ketika kita mencintai rupiah, maka kita juga mencintai Indonesia yang selama ini telah membesarkan diri kita. Jangan katakan dusta tentang cinta tatkala cinta rupiah itu hanyalah sebatas slogan atau ucapan, tetapi perbuatan sehari-hari yang tidak diviralkan oleh sosial media.

Mencintai rupiah itu juga menjaga kondisinya tetap terjaga layaknya semula. Ketika berada di dalam angkot, bus, tempat ibadah, atau pembelian karcis, mengapa kondisi rupiah yang diterima selalu berada dalam kondisi kumal, kucel, dan berbau tidak sedap? Mengapa justru kita menemukan rupiah yang bersih pada restoran atau hotel berbintang? Ketika kita mencintai rupiah, maka kita harus sadar untuk menjaga kondisi rupiah dengan baik dalam penggunaan apapun. Tentu kita tidak perlu diancam bahwa nilai rupiah akan dikurangi jika dalam kondisi terlipat atau rusak, bukan.

Cinta rupiah itu juga tak bersyarat. Kita tak perlu menuntut pemerintah untuk melakukan denominasi rupiah atau melakukan hal yang tidak terjangkau oleh kita. Cinta rupiah adalah satu, yakni melakukan apa yang kita mampu lakukan baginya tanpa embel-embel apapun. Jika kita mencintai seseorang, pernahkah kita mempertanyakan atas dasar apakah cinta itu? Cinta bukanlah logika matematika yang harus dipecahkan dengan jawaban pasti layaknya pertambahan satu dengan satu sama dengan dua. Cinta adalah sebuah rasa dan asa yang membuat kita terjaga dan menjaga apa yang kita miliki.

Lalu apakah cinta rupiah itu dapat terlaksana? Bukan pemerintah yang dapat menjawab keberhasilan dari gerakan tersebut, tetapi kita semua yang menggunakan rupiah dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita mencintai rupiah sebagaimana kita mencintai seseorang? Sudahkah kita merelakan simpanan mata uang asing berganti menjadi rupiah? Sudahkah kita terlibat untuk mencintai rupiah dalam hal yang sangat sederhana, yakni memperlakukan kondisi rupiah secara sempurna tanpa harus melipat, meremas, atau bahkan mencoret-coret.

Semoga kita bukanlah golongan orang yang sibuk mencaci nilai rupiah yang anjlok dibandingkan mata uang negara lain, di saat kita menukarkan rupiah untuk belanja barang-barang branded di luar negeri dengan nilai fantastis dan di saat yang sama mendengungkan semangat cinta rupiah lewat sosial media. Karena cinta rupiah lahir dari kesadaran diri sendiri sama halnya dengan memaknai arti Indonesia dalam diri kita.

Saat Indonesia Jadi Panggung GMT

Lomba Blog Laskar Gerhana detikcom

Tema: “Fenomena Gerhana Matahari di Indonesia”

 

Saat Indonesia Jadi Panggung GMT

 

Sebagai penggemar film berbau science fiction, saya tertarik dengan segala sesuatu yang berbau luar angkasa. Saya ingat ada sebuah film menarik berjudul Interstellar yang menggambarkan bagaimana perjalanan luar angkasa bisa membuat seseorang mengalami dilatasi waktu. Saat kehidupan di Bumi sudah berjalan 7 tahun, Cooper, tokoh utama dalam cerita ini justru baru bertambah tua selama 1 jam ketika mendarat di planet Miller. Letak planet Miller yang mendekati lubang hitam inilah yang membuat waktu menjadi relatif bagi Cooper.

 

Memang begitu banyak kemustahilan yang tidak dimengerti oleh akal sehat, namun banyak sekali ilmu baru yang didapatkan dari film berdurasi 2,5 jam ini dengan berbagai istilah mekanika kuantum dan fisika yang begitu dominan sepanjang alur cerita. Interstellar mungkin hanyalah sebuah cerita khayalan, tapi masyarakat Indonesia kini dapat merasakan dan berpartisipasi dalam peristiwa alam nyata yang akan terjadi pada 9 Maret 2016.

 

Ya, fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) ini adalah salah satu fenomena alam yang sangat langka terjadi di Bumi. Fenomena alam, di mana bulan berada di antara matahari dan Bumi ini membuat matahari seolah menghilang untuk sesaat. Di Indonesia sendiri, Gerhana Matahari Total baru terjadi sebanyak 9X dan terakhir kali terlihat pada 24 Oktober 1995. Jika dulu Gerhana Matahari Total dianggap berbahaya dan mengakibatkan kebutaan, kini Gerhana Matahari Total menjadi sebuah primadona tersendiri bagi Indonesia untuk mendongkrak sektor pariwisata di berbagai daerah yang dilaluinya.

 

Jalur GMT akan melintasi Lubuk Linggau, Palembang, Toboali, Koba, Manggar, Tanjung Pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Palu, Poso, Ternate, Tidore, Sofifi, Jailolo, Kao, dan Maba. Tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi Indonesia karena Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret 2016 nanti hanya akan terjadi di daratan Indonesia! Ratusan ribu wisatawan asing yang menggemari dunia astronomi akan berduyun-duyun datang ke Indonesia untuk menyaksikan fenomena alam yang sangat langka ini.

 

Mengingat Indonesia akan menjadi panggung utama dari pertunjukan Gerhana Matahari Total, maka Kemenpar harus berbenah agar wilayah yang dilalui Gerhana Matahari Total dapat menjadi destinasi wisata yang mengakomodasi turis domestik dan internasional secara aman, nyaman, dan berkualitas. Dari segi pariwisata, pemerintah daerah harus mengelola dan membenahi situs pariwisata setempat agar pengunjung tidak hanya sekadar untuk melihat Gerhana Matahari Total, tetapi juga mau berwisata dan merasakan kekhasan budaya nusantara yang ada di setiap daerah yang dilalui GMT.

 

Tidak hanya itu, akses dari dan ke bandara setempat menuju akomodasi dan tempat pengamatan Gerhana Matahari Total haruslah menjadi prioritas utama agar kesiapan Indonesia dalam menyambut fenomena alam Gerhana Matahari Total ini tidak hanya ala kadarnya, tetapi dapat dipersiapkan secara matang. Selain itu, pemerintah harus mulai melakukan sosialisasi tentang cara mengamati Gerhana Matahari Total, di mana fenomena tersebut harus disaksikan dengan metode yang tepat agar tidak merusak retina mata akibat menatap matahari dengan mata telanjang sebelum ataupun sesudah Gerhana Matahari Total terjadi.

 

Semoga saja mata dunia yang tertuju pada Indonesia untuk melihat Gerhana Matahari Total pada 9 Maret 2016 ini tidak hanya menjadi angin lalu saja, tetapi dapat dimanfaatkan Kemenpar dan Pemerintah Daerah setempat untuk memperlihatkan seperti apa “Pesona Indonesia” yang dianugerahi dengan berbagai kekayaan alam dan budaya yang melimpah. Sungguh tak sabar rasanya menantikan momen Gerhana Matahari Total terjadi dan melihat Indonesia menjadi panggung utama dari terjadinya peristiwa alam langka ini. Selamat berbenah dan menyambut Gerhana Matahari Total!

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Laskar Gerhana detikcom”

Wajibkah Memberi Salam Tempel?

Berbicara tentang tradisi Lebaran, tentu anak-anak tak asing lagi dengan yang namanya salam tempel. Salam yang berisi doa dari keluarga dan kerabat dekat ini biasanya diberikan saat Hari Raya Idul Fitri. Tentu yang menjadikan salam tempel menarik bukan semata doa yang dipanjatkan, tetapi juga isi dari amplop saat salam tempel itu dilakukan. Tak heran jika anak-anak sangat mengharapkan salam tempel ini sebagai sebuah hadiah Lebaran yang dapat digunakan untuk membeli barang yang mereka sukai.

Salam tempel biasanya diberikan mereka yang sudah berkeluarga pada anak-anak yang masih kecil. Tentu sah-sah saja memberi salam tempel pada anak-anak dengan nominal berapapun asalkan dilakukan secara ikhlas. Tapi seringkali salam tempel ini menjadi kehilangan maknanya atau bahkan bergeser maknanya menjadi sebuah hadiah yang wajib diberikan saat Lebaran pada anak-anak. Padahal salam tempel seyogianya hanya simbolisasi harapan dan doa pada anak-anak agar menjadi anak yang rajin dan sholeh.

Banyak anak-anak yang kecewa tatkala mendapat salam tempel lebih sedikit dari teman-temannya. Alhasil mereka jadi malas beribadah dan uring-uringan di rumah. Kalau sudah begini salam tempel bukan menjadi tradisi yang baik, tapi ibarat memakan buah simalakama bagi pemberinya. Kalau sudah begini makna salam tempel menjadi hilang, bukan menjadi sebuah refleksi akan kemenangan di hari Idul Fitri yang suci ini.

Berbicara tentang salam tempel, aktivitas memberi amplop berisi uang pada anak-anak ini hendaknya tidak menjadi tradisi yang dibiarkan tanpa ada pesan moral. Seringkali salam tempel dimaknai anak-anak untuk menandai siapa kerabat yang dermawan dan siapa yang pelit. Padahal salam tempel seyogianya dimaknai sebagai sebuah contoh dan bukti nyata dalam memberi secara ikhlas. Kelak anak-anak yang mendapat salam tempel ini akan melakukan hal yang sama pada anak-anak mereka di masa mendatang tatkala Lebaran tiba.

Memperbaharui makna salam tempel ini memang bukanlah hal yang mudah, apalagi tradisi ini sudah dibiarkan layaknya kewajiban bagi anak-anak. Ajarkan anak-anak untuk memberi uang yang mereka peroleh pada anak yatim piatu di panti asuhan atau orang yang membutuhkan. Tanamkan pada diri anak bahwa memberi itu jauh lebih indah dibandingkan menerima dari orang lain. Tatkala persepsi keindahan memberi ini sudah tertanam dengan baik dalam otak anak, yakinlah bahwa salam tempel adalah sebuah tradisi yang baik untuk diteruskan.

Lewat salam tempel, mari kita ajarkan anak-anak kita untuk menjadi seorang pemberi yang dermawan, bukan penerima rutin. Bukankah memberi juga adalah amal ibadah tersendiri bagi kita untuk mendapatkan pahala yang berlimpah. Tentu jauh lebih berharga bagi anak-anak dan kita semua untuk memberi karena salam tempel dari Tuhan jauh lebih besar dibandingkan salam tempel dari kerabat, yakni derajat kita dinaikkan di hadapan-Nya. Selamat memaknai tradisi salam tempel dengan pola pikir yang baru!

Tradisi Lebaran Rasa Nusantara

Ketika ditanya tentang arti perbedaan, mungkin kita semua bisa memberikan definisi perbedaan secara berbeda satu sama lain. Saat satu pihak memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman, bisa jadi pihak lain memandang perbedaan sebagai sebuah kekayaan tersendiri. Mungkin itulah yang menjadikan Indonesia seperti saat ini. Saat pemuda-pemudi Indonesia merumuskan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan, saat itu pula kita mendefinisikan arti perbedaan itu sendiri.

Sebagai negara yang terdiri dari banyak suku, agama, ras, dan golongan, Indonesia diberi anugerah yang melimpah akan banyaknya perbedaan. Saat melihat ke layar kaca akan banyaknya etnis Rohinga yang mengungsi akibat banyaknya ancaman di Myanmar, saat itu pula kita sadar bahwa negara kita adalah negara yang toleran. Melihat perbedaan perlakuan pada suku atau etnis tertentu di sebuah negara secara keji, saat itu pula kita sadar bahwa Indonesia layak menjadi contoh lewat slogan “Bhinneka Tunggal Ika” untuk mengajarkan tentang arti perbedaan.

Memang tak dapat dimungkiri jika penetapan bulan puasa dan perayaan Hari Idul Fitri masih menjadi sebuah perbedaan yang belum menemukan titik temu. Namun apakah perbedaan itu lantas menjadikan kita tidak kompak dalam menjalankan ibadah puasa? Tentu tidak, bukan. Buktinya sampai hari ini, Indonesia tetaplah damai dan tekun berpuasa tanpa melihat perbedaan sebagai sebuah ancaman. Setiap orang saling menghormati satu sama lain karena menyadari bahwa Indonesia bukanlah negara yang dicapai dari jasa 1 tangan saja, melainkan ratusan juta pasang tangan yang rela berkorban demi memperjuangkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Kita sadar bahwa kearifan lokal Indonesia sangatlah kaya dan beragam, sehingga tradisi Lebaran yang ada pun beragam dan berbeda satu sama lain. Saat suatu daerah melakukan tradisi A, bisa jadi daerah lain melakukan tradisi B. Tentu itu semua sebuah kekayaan budaya dan khazanah bangsa yang harus dilestarikan. Jangan sampai arus globalisasi yang demikian cepat merasuki bangsa melalui budaya Barat malah melunturkan tradisi yang sudah membudaya dalam masyarakat kita.

Mungkin kita patut belajar dari Jepang, di mana tradisi dan teknologi bisa hidup berdampingan tanpa membunuh satu sama lain. Meskipun negara mereka terkenal sebagai penghasil teknologi canggih, mereka tak lupa untuk mempertahankan jati diri mereka sebagai orang Jepang dengan tradisi yang boleh dikatakan kuno. Tapi justru itulah yang membuat Jepang digemari turis asing, yakni karena keaslian dari negara itu sendiri. Rasanya kita bisa memetik banyak pelajaran berharga tentang arti budaya sesungguhnya dari Jepang.

Sebagai negara yang jauh lebih kaya budaya, tradisi, dan kebiasaan dari Jepang, kita patut malu jika kita tidak bisa menjaga tradisi bangsa kita dengan baik. Salah satu tradisi yang harus kita jaga itu adalah tradisi Lebaran yang boleh dikatakan unik. Kita bisa mengenal puluhan atau bahkan ratusan tradisi Lebaran yang tidak ditemukan di negara lain dan hanya Indonesia yang memilikinya. Tinggal tugas kita adalah melanjutkan dan membudayakan tradisi itu dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan sampai tradisi Lebaran yang begitu baik dari Indonesia, justru akhirnya berakhir di museum karena anak mudanya merasa tradisi tersebut kuno dan tidak relevan dengan kemajuan zaman. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai akar budayanya sendiri. Tentu jika kita ingin negara kita disegani, maka kita harus mencintai apa yang kita miliki terlebih dahulu, bukan mencintai apa yang dimiliki negara lain.

Tradisi memang bukanlah hal yang futuristik, mewah, atau glamor, tapi tradisi adalah jati diri. Saat sebuah bangsa kehilangan jati dirinya, maka kehancuran bangsa itu sudah diambang mata. Maka dari itu, mari kita jaga tradisi Lebaran ini agar bisa disaksikan anak cucu kita kelak dan tidak diklaim oleh negara lain sebagai kekayaan khazanah budayanya!